Single Mother Double Fighter

Rabu, 04 April 2012


Penulis : Skylashtar Maryam 
Penerbit : Gradienmediatama
Tanggal terbit : Maret - 2012
Jumlah halaman : 208
Kategori : Parenting (Orang tua dan Anak)

SINOPSIS BUKU
Salwa: Emang Bunda enggak bisa baca sendiri? *Tatapan Ratu Elizabeth lagi. Duuhh...
Gue: Ya, bisa dong. Bunda cuma mau ngetes kamu aja, kok...
Salwa: *Sok-sokan menarik nafas. Bacaannya adalah: Masakan padang.
Gue: Mantap. Sip, sip, sip. Bunda jadi beliin semua makanan kesukaan kamu.
(Usut punya usut... Kalimat pengakuan dosa Satwa: "Bun, di mana-mana kalau ada gambar rumah yang atapnya kayak gitu, pasti masakan Padang. Enggak usah dibaca juga orang udah tahu. Ngapain repot-repot baca?" Dezig! )

Gue: Intinya adalah, kamu udah punya semua boneka hewan itu. Untuk apa beli lagi? Menuh-menuhin kamar aja. Lagian, kalau pun Bunda punya uang, mending Bunda tabung kek atau beliin beras daripada buat beliin boneka kamu terus.
Salwa: Ada enggak ya boneka beras?
Gue: *Ngeloyor pergi daripada kena darah tinggi.

Salwa: *Mikir dulu bentar. Kata Bunda, boleh punya cita-cita banyak.
Gue: Tapi kan, dokter kandungan ama dokter hewan itu enggak nyambung, Non.
Salwa: Kan kelinci juga bisa hamil, Bun.
Gue: *Well, you get the point there.

"Anda akan terkesima, karena Anda baru saja menghabiskan sepaket nutrisi hati berjudut: Cinta utuh seorang bunda. (Etyastari Soeharto, Penikmat Buku dan Freelance Writer)

"Kisah ini mewakili keterikatan batin antara ibu dan anak dari belahan bumi mana pun. Tiap bab membuncahkan rasa..."
(Nikky Viand, Staf IT dan penulis antologi)


Review ane
Menjadi orangtua itu tidaklah mudah! Apalagi jika harus membesarkan anak seorang diri a.k.a menjadi single parent. Hal inilah yang sekiranya dialami oleh seorang ibu bernama Skylashtar Maryam.

Jalan hidup Maryam sepertinya harus seperti ini: menjadi single parent bagi anak perempuannya yang bernama Salwa. Sebagai orangtua tunggal, Maryam harus merelakan waktunya terbagi antara mengurus Salwa dan bekerja.

Meski demikian, ibu dan anak ini memiliki  kisahnya tersendiri. Highlight buku ini tentu saja hubungan Ibu dan anak, yang diperankan oleh Teh Maryam dan putri sulungnya si Salwa. Kasih sayang Teh Maryam terhadap anaknya sukses membuat Salwa begitu bersinar dari awal hingga akhir. Dalam bukunya yang berjudul Single Mother, Double Fighter, pembaca dibuat gemas, geli, dan tertawa membaca tingkah polahnya. Apalagi bila sudah "bertengkar" dengan sepupunya, si Mayra.  

Bisa dibilang, Maryam memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Salwa, khususnya dalam hal berinteraksi. Terkadang, Salwa yang polos justru memiliki respon layaknya orang dewasa.

Dan ane paling suka pas bagian A Religious Stoy yang Surga dan Neraka.
Salwa : Najwa sekarang di mana ya, Bun? *Bertanya tentang almarhimah adiknya*
Gue : Insyaallah ada di surga.
Salwa : Kalau abdi mau ketemu gimana?
Gue : Ya, tunggu sampai nanti kamu masuk surga.
Salwa : Gimana caranya masuk surga?
Gue : Harus jadi anak yang baik.
Salwa : Kalau Bunda nanti masuk surga enggak?
Gue : *I wish. Enggak tahu, yah. Mudah-mudahan aja.
Salwa : Nanti abdi titipin salam deh buat Najwa.
Gue : Heuh?
Salwa : Ya, siapa tahu nanti Bunda masuk neraka, jadi enggak bisa ketemu Najwa. Nanti abdi titipin salam Bunda buat Najwa deh. Janji!
Gue : *Meringis*

Nak, surgamu ada di bawah telapak kakiku. Dan, surgaku ada di dalam lafal doa dan kesalehanmu. Semoga  kita bisa bertemu di sana. Amin.

Dan puisi di akhir cerita juga ane suka banget.

***
PUTRI DRUPADI

:Salwa
Suatu saat kelak, Nak....
Kau akan mengukir wajahku pada album foto-foto lama,
supaya jemarimu yang tembaga dapat
bercerita pada masa bahwa aku pernah ada

Walau suaraku hanya akan jadi suara di ujung pantai
Buih perjalanan, yang selalu berteriak samar
Menggumamkan perintah-perintah yang baru dapat kau cerna
Setelah sekian lama; cuci tangan sebelum makan.
berdua sebelum tidur, gantungkan seragam sekolah pada
tempatnya,
Siapkan buku pelajaran satu hari sebelumnya

Mesti--barangkali--nanti
Pelukku akan sama berkarat dengan angin asin
pada pergantian musim, saat kau tak lagi perlu
mengeja nama-nama dermaga dan pelabuhan,
tak lagi perlu memlintir lidah tika
menghafal nama jalan

Telunjukku ini, Nak....
Bukan lampu merah di perempatan,
sebentar merah sebentar hijau
Larangan
dan himbauan bukan puisi
sehingga di telingamu tuli arti

Anakku....
Namaku tak akan berarti banyak
Kecuali penanda nisan supaya aku tak perlu
tersesat, dan kau akan selalu ingat kapan harus melesat

Dan, jika suatu saat wajahku benar-benar
sebuah gambar buram dalam foto lama yang senantiasa kau
simpan
di bawah bantal, lalu jemarimu mengusap
senyumku yang berjelujur,
barangkali kau akan ingat bahwa rahimku
telah menuntaskan tugasku atasmu.

***


Thanks buat Robi'atul Asnawiyah yang udah pinjemin ane novelnya.

4 komentar:

Langit Amaravati mengatakan...

EIts, ga boleh pinjem, harus beli bukunya :D
terima kasih atas resensinya ya

FinantaBlog mengatakan...

eh tante, sama-sama
ane suka banget novelnya :)
ditunggu karya selanjutnya tant ~

Anonim mengatakan...

Eh ada yang quoting review saya dari Goodreads!
*mendadak berasa ngetop*
Hahahahha
:D

Anonim mengatakan...

Mba @skylashtar saya yona, dari metro tv, jika saya ingin mengundang mba ke talk show kita, bisakah? kemanakah saya bisa menghubungi? terima kasih :)

Posting Komentar