Penulis : Skylashtar Maryam
Penerbit : Gradienmediatama
Tanggal terbit : Maret - 2012
Jumlah halaman : 208
Kategori : Parenting (Orang tua dan Anak)
SINOPSIS BUKU
Salwa: Emang Bunda enggak bisa baca sendiri? *Tatapan Ratu Elizabeth lagi. Duuhh...
Gue: Ya, bisa dong. Bunda cuma mau ngetes kamu aja, kok...
Salwa: *Sok-sokan menarik nafas. Bacaannya adalah: Masakan padang.
Gue: Mantap. Sip, sip, sip. Bunda jadi beliin semua makanan kesukaan kamu.
(Usut punya usut... Kalimat pengakuan dosa Satwa: "Bun, di mana-mana kalau ada gambar rumah yang atapnya kayak gitu, pasti masakan Padang. Enggak usah dibaca juga orang udah tahu. Ngapain repot-repot baca?" Dezig! )
Gue: Intinya adalah, kamu udah punya semua boneka hewan itu. Untuk apa beli lagi? Menuh-menuhin kamar aja. Lagian, kalau pun Bunda punya uang, mending Bunda tabung kek atau beliin beras daripada buat beliin boneka kamu terus.
Salwa: Ada enggak ya boneka beras?
Gue: *Ngeloyor pergi daripada kena darah tinggi.
Salwa: *Mikir dulu bentar. Kata Bunda, boleh punya cita-cita banyak.
Gue: Tapi kan, dokter kandungan ama dokter hewan itu enggak nyambung, Non.
Salwa: Kan kelinci juga bisa hamil, Bun.
Gue: *Well, you get the point there.
"Anda akan terkesima, karena Anda baru saja menghabiskan sepaket nutrisi hati berjudut: Cinta utuh seorang bunda. (Etyastari Soeharto, Penikmat Buku dan Freelance Writer)
"Kisah ini mewakili keterikatan batin antara ibu dan anak dari belahan bumi mana pun. Tiap bab membuncahkan rasa..."
(Nikky Viand, Staf IT dan penulis antologi)
Review ane
Menjadi orangtua itu tidaklah mudah! Apalagi jika harus membesarkan anak seorang diri a.k.a menjadi single parent. Hal inilah yang sekiranya dialami oleh seorang ibu bernama Skylashtar Maryam.
Jalan hidup Maryam sepertinya harus seperti ini: menjadi single parent bagi anak perempuannya yang bernama Salwa. Sebagai orangtua tunggal, Maryam harus merelakan waktunya terbagi antara mengurus Salwa dan bekerja.
Meski demikian, ibu dan anak ini memiliki kisahnya tersendiri. Highlight buku ini tentu saja hubungan Ibu dan anak, yang diperankan oleh Teh Maryam dan putri sulungnya si Salwa. Kasih sayang Teh Maryam terhadap anaknya sukses membuat Salwa begitu bersinar dari awal hingga akhir. Dalam bukunya yang berjudul Single Mother, Double Fighter, pembaca dibuat gemas, geli, dan tertawa membaca tingkah polahnya. Apalagi bila sudah "bertengkar" dengan sepupunya, si Mayra.
Bisa dibilang, Maryam memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Salwa, khususnya dalam hal berinteraksi. Terkadang, Salwa yang polos justru memiliki respon layaknya orang dewasa.
Dan ane paling suka pas bagian A Religious Stoy yang Surga dan Neraka.
Salwa : Najwa sekarang di mana ya,
Bun? *Bertanya tentang almarhimah adiknya*
Gue : Insyaallah ada di surga.
Salwa : Kalau abdi mau ketemu
gimana?
Gue : Ya, tunggu sampai nanti kamu
masuk surga.
Salwa : Gimana caranya masuk surga?
Gue : Harus jadi anak yang baik.
Salwa : Kalau Bunda nanti masuk
surga enggak?
Gue : *I wish. Enggak tahu, yah.
Mudah-mudahan aja.
Salwa : Nanti abdi titipin salam deh
buat Najwa.
Gue : Heuh?
Salwa : Ya, siapa tahu nanti Bunda
masuk neraka, jadi enggak bisa ketemu Najwa. Nanti abdi titipin salam Bunda
buat Najwa deh. Janji!
Gue : *Meringis*
***
PUTRI DRUPADI
:Salwa
Suatu saat kelak, Nak....
Kau akan mengukir wajahku pada album
foto-foto lama,
supaya jemarimu yang tembaga dapat
bercerita pada masa bahwa aku pernah
ada
Walau suaraku hanya akan jadi suara
di ujung pantai
Buih perjalanan, yang selalu
berteriak samar
Menggumamkan perintah-perintah yang
baru dapat kau cerna
Setelah sekian lama; cuci tangan
sebelum makan.
berdua sebelum tidur, gantungkan
seragam sekolah pada
tempatnya,
Siapkan buku pelajaran satu hari
sebelumnya
Mesti--barangkali--nanti
Pelukku akan sama berkarat dengan
angin asin
pada pergantian musim, saat kau tak
lagi perlu
mengeja nama-nama dermaga dan
pelabuhan,
tak lagi perlu memlintir lidah tika
menghafal nama jalan
Telunjukku ini, Nak....
Bukan lampu merah di perempatan,
sebentar merah sebentar hijau
Larangan
dan himbauan bukan puisi
sehingga di telingamu tuli arti
Anakku....
Namaku tak akan berarti banyak
Kecuali penanda nisan supaya aku tak
perlu
tersesat, dan kau akan selalu ingat
kapan harus melesat
Dan, jika suatu saat wajahku
benar-benar
sebuah gambar buram dalam foto lama
yang senantiasa kau
simpan
di bawah bantal, lalu jemarimu
mengusap
senyumku yang berjelujur,
barangkali kau akan ingat bahwa
rahimku
telah menuntaskan tugasku atasmu.
***

Thanks buat Robi'atul Asnawiyah yang udah pinjemin ane novelnya.




4 komentar:
EIts, ga boleh pinjem, harus beli bukunya :D
terima kasih atas resensinya ya
eh tante, sama-sama
ane suka banget novelnya :)
ditunggu karya selanjutnya tant ~
Eh ada yang quoting review saya dari Goodreads!
*mendadak berasa ngetop*
Hahahahha
:D
Mba @skylashtar saya yona, dari metro tv, jika saya ingin mengundang mba ke talk show kita, bisakah? kemanakah saya bisa menghubungi? terima kasih :)
Posting Komentar